Thanks for VISIT, "Persahabatan sama seperti pasang surut laut, ada kalanya kita memberi dan ada kalanya menerima". Original posted By aA' iQbal

Sabtu, 30 Juli 2011

Belajar dan Belajar Lagi

Jika bermanfaat, berikan nilai dan bagikan artikel ini.


Rating Artikel :

Ada pepatah, learning is never ending adventure. Belajar adalah petualangan yang tiada akhir. Tak ada batasan usia untuk belajar. Kita layak belajar sepanjang hidup kita.
Beberapa waktu lalu saya membaca ada kakek yang baru lulus S1 pada saat usianya menginjak 90-an tahun. Bahkan bulan Juni kemarin seorang kakek bernama Leo Plass baru lulus S1 dari Eastern Oregon University, Amerika Serikat, pada saat usianya menginjak 99 tahun lebih 10 bulan, atau hanya dua bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-100. Sungguh luar biasa semangat belajarnya. Sang kakek tentu begitu enjoy dengan proses belajarnya, tanpa paksaan, tanpa ambisi mengejar pekerjaan atau posisi tertentu dalam profesinya. Ia belajar karena ingin belajar. Karena itu, jika sang kakek saja masih semangat belajar, seharusnya kita yang masih muda harus lebih bersemangat lagi.

Belajar bisa dilakukan di mana saja. Menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi hanyalah salah satu jalur pelajaran yang bisa ditempuh. Setelah lulus seseorang akan menjalani pembelajaran sebenarnya dari kehidupan yang dijalani. Pada saat ini hampir tak ada lagi bimbingan dari dosen atau guru. Sukses hidupnya ditentukan oleh upayanya sendiri.

Kadang nilai yang diperoleh akan menentukan nasib baiknya. Tak sedikit juga yang mengalami kejadian sebaliknya. Meskipun nilai pendidikan di universitasnya bagus, namun gagal dalam kehidupannya. Mungkin ia belajar baik di universitasnya, akan tetapi kurang belajar mengenai kehidupan.

Di sisi lain, ada orang yang gagal dalam pendidikan formalnya, tetapi sukses dalam kehidupannya. Kuncinya karena ia mau belajar dari segala hal, dari kehidupan, dari orang lain, dari alam, dari kegagalannya sendiri, dan dari hal-hal lainnya yang ditemui. Minimal ia belajar dari buku-buku yang dibacanya.

Karena itu, meski kita sudah lulus dari pendidikan formal dengan nilai yang luar biasa, belajar harus tetap dilakukan. Belajar dari buku, dari kehidupan, dari fenomena yang ada, bahkan ilmunya pun masih terus diasah, di-up-date, agar selalu aktual.

Netter yang Luar Biasa!


Tadi pagi pada talkshow di Radio Sonora, saya membawakan tema "Belajar dan Belajar Lagi". Ini semacam pengingat bagi kita semua bahwa belajar itu tak ada akhirnya.Satu hal yang perlu kita sama-sama ingat, setiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kita lebih di satu sisi, kita mungkin kurang di sisi lain sehingga perlu banyak belajar pada mereka yang memiliki kelebihan di bidang itu.

Karena itu, tak sepantasnya kita menyombongkan diri jika menguasai satu hal. Lebih baik jadi manusia yang fleksibel, rendah hati, mau menerima kelebihan orang lain, serta menyadari kekurangan dan kelebihannya. Dengan demikian, jika bertemu dengan orang yang lebih hebat, kita tidak akan rendah diri. Begitu pun saat kita bertemu orang yang kurang beruntung dibanding kita, tak akan menyombongkan diri. Pada intinya, kerendahan hati akan membuat kita lebih mawas diri.

Salam sukses luar biasa!

Pembuat Virus Pertama yang Dihukum

Jika bermanfaat, berikan nilai dan bagikan artikel ini.


Virus komputer memang menjengkelkan dan sudah merusak jutaan komputer di dunia. Dengan makin berkembangnya internet, penyebaran virus makin merajalela. Komputer yang terhubung ke internet dan membuka suatu website atau halaman web yang mengandung virus bisa segera terinfeksi dan virus itu segera ter-install di dalam komputernya tanpa sepengetahuannya. Keberadaannya di dalam harddisk membuat sejumlah program di dalam komputer rusak atau berjalan tidak sesuai dengan semestinya. Tak sedikit juga komputer yang mati dan tak bisa digunakan lagi.
Seiring perkembangan waktu, virus komputer kemudian berkembang menjadi beberapa macam. Worm, misalnya, adalah virus komputer yang bisa menduplikasi diri dengan sendirinya. Komputer menjadi penuh dengan worm yang membuat kinerjanya lambat. Yang lainnya antara lain virus jenis Trojan yang bisa mengambil data komputer yang terinfeksi dan mengirimkannya ke si penyebar Trojan. Ada juga jenis Spyware, yaitu virus yang memantau komputer yang terinfeksi.

Dalam hal kasus worm, yang pertama ditemukan adalah yang dibuat oleh Robert Tappan Morris, seorang ahli komputer Amerika Serikat. Ia membuat Morris Worm setelah lulus dari Cornell University tahun 1988. Maksud pembuatan worm itu, menurut dia, adalah untuk mengukur seberapa besar hebatnya internet. Worm ini ditargetkan bisa masuk ke sejumlah sistem di internet seperti e-mail, sistem jaringan, dan sistem yang menggunakan password.

Semula diperkirakan Morris Worm hanya akan menduplikasi satu hingga tujuh kali dalam komputer yang terinfeksi. Namun pada kenyataannya jauh lebih cepat dari itu. Dalam waktu tak terlalu lama puluhan ribu komputer terinfeksi Morris Worm. Dalam hitungan ekonomi, setiap komputer (atau sistem) yang terinfeksi worm tersebut dibutuhkan biaya pembersihan berkisar antara US$ 200 hingga US$ 53.000. Karena itu menimbulkan keresahan.

Morris kemudian ditangkap pada 26 Juli 1989 dengan dakwaan melanggar Undang-Undang Penipuan dan Penyalahgunaan Komputer yang baru dikeluarkan AS pada tahun 1986. Tahun 1990 ia menjadi orang pertama di dunia yang didakwa karena membuat virus komputer. Morris kemudian dijatuhi hukuman percobaan selama tiga tahun, 400 jam pelayanan masyarakat, dan denda US$ 10.050.
 
Selepas hukuman itu, Morris jadi pengusaha TI berbasis internet. Salah satunya adalah mendirikan Viaweb, online store yang kemudian diakuisisi Yahoo. Ia juga membuat beberapa perusahaan lain. Sedangkan dalam karier keilmuannya, ia kemudian meraih gelar PhD dalam bidang komputer dan pada tahun 1999 diangkat menjadi profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Sumber: Andrie Wongso

Senin, 11 Juli 2011

Menuntut Ilmu Tak Kenal Henti

Pak kuswo adalah mahasiswa jurusan Komunikasi di Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka, Bogor. Meski sudah berusia 67 tahun, semangat belajarnya tidak pernah berhenti. Ia baru saja mendapatkan dua gelar S1 dari Universitas Terbuka untuk jurusan Manajemen dan Administrasi Niaga.

Kuswo menuturkan bahwa banyak hal yang melatarbelakangi niatnya untuk terus belajar meskipun dia sudah memasuki usia lanjut. Pertama, dia ingin membuktikan bahwa pendapat banyak orang keliru bahwa mereka yang sudah tua sulit untuk menangkap pelajaran karena cenderung cepat lupa atau pikun.

"Saya justru ingin membuktikan bahwa dengan terus belajar meski orang tersebut sudah tua, dia tidak pikun. Saya sudah tua, tapi semangat saya untuk belajar masih ada," katanya.

Alasan kedua, karena kesempatan masih ada untuk kuliah di UT dan biaya kuliahnya terjangkau. Alasan lain juga karena faktor lingkungan. Pak Kuswo mengaku saudara-saudara kandungnya yang berjumlah 14 orang, semuanya sukses dalam bidang pendidikan.

"Tiga saudara kandung saya bergelar profesor. Itulah yang memacu saya untuk terus belajar dan memberikan contoh bagi keponakan-keponakan saya," lanjutnya.

Meski membantu saudaranya yang bekerja di bidang kesehatan, Pak Kuswo masih meluangkan waktu untuk belajar. Dia tidak menerapkan waktu yang ketat dalam belajar. Kapan dan di mana saja, jika ia mau belajar, ia tak segan melakukannya. Bahkan di dalam bus, dia tak jarang melapisi modulnya dengan koran. Orang-orang mengira Pak Kuswo sedang membaca koran, padahal dia sedang membaca modul kuiahnya.

Hanya masalah biaya mahal dan waktu tak fleksibel saja yang menyebabkan Pak Kuswo tidak mengambil kuliah di pascasarjana (S2).

Kuliah pertama yang ia ikuti  di UT pada 1995 adalah jurusan Manajemen. Merasa jurusan manajemen yang dipelajarinya terlalu luas, Pak Kuswo pun mengambil jurusan Administrasi Niaga yang menurutnya masih ada kaitan dengan manajemen.

Tidak puas dengan administrasi niaga, dia pun terus menambah wawasannya dengan mengambil jurusan Komunikasi. Alasannya sangat sederhana, dia ingin mengetahui lebih jauh soal politik dan komunikasi.

"Gelar yang sudah saya raih tidak saya pakai untuk pamer, tetapi itu merupakan investasi dan untuk menambah wawasan pengetahuan saya saja," katanya.

Meski demikian, ia juga menghadapi beberapa kesulitan jika harus berurusan dengan internet. Oleh sebab itu, Kuswo lebih senang memilih metode belajar yang sifatnya konvensional dengan berpedoman pada modul pembelajaran, televisi, koran, dan diskusi dengan teman.

Setelah menyelesaikan kuliah di jurusan Komunikasi, Pak Kuswo mengaku belum memiliki rencana apa pun. Namun, baginya pengetahuan merupakan investasi yang tak ternilai harganya.

"Awal dari pengetahuan adalah menemukan sesuatu yang tidak kita mengerti." ~Frank Herbert (penulis Amerika Serikat)

Original Posted by iQbal
sumber : buku 101 kisah inspiratif